Minggu, 19 Januari 2014

Menikah atau...?!

Di tahun 2014, tepatnya menginjak ke usia 22 tahun bagi hampir setiap orang merupakan saat-saat dimana akan banyak memperoleh undangan pernikahan. Penuh kebahagiaan, bagi yang mengundang, maupun yang hadir. Di sisi lain, terbersit bisikan di hati nurani yang menanyakan kepastian, kapan kita akan mendapatkan giliran untuk menyelenggarakan deklarasi komitmen seumur hidup.

Saya sangat mengagumi , teman-teman yang lebih keras menempa dirinya sehingga mereka dinaungi kesiapan untuk memutuskan pada jalan pernikahan di usia yg terbilang muda. Entah apapun motivasinya. Tidak ada yang salah, justru sangat baik. Karena menyegerakan kebaikan adalah baik hukumnya.

Sementara beberapa yang lain, termasuk saya, di usia yang tergolong dewasa ini masih disibukkan dengan persiapan-persiapan menuju kesiapan dan memilih figur-figur idaman yang nantinya akan digambarkan sebagai calon pasangan. Pendamping yang baik akhlaknya, bertanggungjawab, serta memiliki visi kedepan, yang pasti harus nyaman. Sebab yang demikian menawarkan kesejukan dalam harmoni kehidupan, menjadi solusi dalam rintangan, serta menjadi nahkoda dalam perahu yg berlayar di lautan. Humoris juga dibutuhkan untuk membangkitkan satu sama lain. Ya, terlalu semiotika jika menggambarkan pasangan hidup idaman. Yang pasti, masing-masing dalam kriterianya J

Entah bagaimana caranya, yang pasti pernikahan adalah keputusan yang serius yang akan dijalankan seumur hidup, tanpa revisi. Menjalin hubungan (pacaran.red) bisa jadi tidak memberikan jaminan kepastian pada arah kehidupan. Seperti yang sudah dijanjikan, bahwa setiap manusia tela terlahir dengan jodohnya. Jodoh harus dicari atau bagaimana, saya kurang tau bagaimana seharusnya. Usaha adalah pasti, senantiasa memperbaiki diri dari hari-ke hari dan berdoa. Berdoa agar disandingkan dg seseorang yg dapat memberi kebahagiaan di dunia, dan mampu menuntun ke surga. Sepertinya tidak perlu terpaku pada takdir yang (dianggap) sempurna, yang kita gambar sendiri. Tuhan Maha Cerdas, dia mengetahui melebihi apa yg tdk kita ketahui.

Dengan memperbaiki diri, maka menempatkan kita pada keadaan terbaik. Dalam tingkat pengetahuan yg bagus, dan karir sebagai jalan lain utk mempunyai kontribusi bagi sesama. Dengan begitu kita siap diperoleh dengan cara elegan, oleh seseorang yang terbaik. Jangan lupa, bahwa esensi sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi sesama. Jangan sampai keputusan menikah kita adalah keputusan emosional, seperti kebutuhan seksual atau bosan menjalani kesendirian kemuadian berdalih legitimasi agama. Buat apa?! Tuhan tdk menyukai yg demikian. Itu adalah tantangan yg harus diselesaikan. Sampai akhirnya hati kita sungguh-sungguh ikhlas utk diletakkan pada hati yg benar oleh-Nya. Berat? Mungkin. Kita belajar

Menikah adalah menyempurnakan separuh iman. Tapi apakah kita tahu, apa separuhnya lagi? Separuhnya lagi adalah takwa. Bagaimana bisa membuat kesempurnaan jika kita tidak menggenapkan disisi lainnya? Sehingga, pertama haruslah menempa diri utk meningkatkan ketakwaan dan pengetahuan. Barulah yakin utk berkeputusan memilih pernikahan. Pernikahan jangan sampai mengebiri nilai kebermanfaatan atas kita terhadap sesama. Untuk saya, semoga bisa merenungkan.


Selamat malam, generasi lepas landas J

Sabtu, 18 Januari 2014

Greetings

Saturday, January 18th 2014
Malam hari adalah waktu yang tepat tumbuhnya inspirasi bagi sebagian orang, termasuk saya. Di malam hari, dalam keadaan yang lebih tenang menciptakan atmosfer untuk berkontemplasi dan melakukan evaluasi atas apa yang telah dilakukan dalam sehari. Diharapkan, kontemplasi tidak berujung dengan penyesalan tanpa aksi, namun lebih kepada revisi untuk bertindak di kemudian hari.
Semoga lembaran yang disediakan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk berbagi kebahagiaan,mencurahkan keletihan, berbagi pengalaman, dll. Tapi lebih dari itu dapat memperoleh hikmah atas apa yang dialami orang lain.

Selamat Malam, pemimpin kaliber :)