Di tahun
2014, tepatnya menginjak ke usia 22 tahun bagi hampir setiap orang merupakan
saat-saat dimana akan banyak memperoleh undangan pernikahan. Penuh kebahagiaan,
bagi yang mengundang, maupun yang hadir. Di sisi lain, terbersit bisikan di
hati nurani yang menanyakan kepastian, kapan kita akan mendapatkan giliran
untuk menyelenggarakan deklarasi komitmen seumur hidup.
Saya sangat
mengagumi , teman-teman yang lebih keras menempa dirinya sehingga mereka
dinaungi kesiapan untuk memutuskan pada jalan pernikahan di usia yg terbilang
muda. Entah apapun motivasinya. Tidak ada yang salah, justru sangat baik. Karena
menyegerakan kebaikan adalah baik hukumnya.
Sementara
beberapa yang lain, termasuk saya, di usia yang tergolong dewasa ini masih
disibukkan dengan persiapan-persiapan menuju kesiapan dan memilih figur-figur
idaman yang nantinya akan digambarkan sebagai calon pasangan. Pendamping yang
baik akhlaknya, bertanggungjawab, serta memiliki visi kedepan, yang pasti harus
nyaman. Sebab yang demikian menawarkan kesejukan dalam harmoni kehidupan,
menjadi solusi dalam rintangan, serta menjadi nahkoda dalam perahu yg berlayar
di lautan. Humoris juga dibutuhkan untuk membangkitkan satu sama lain. Ya,
terlalu semiotika jika menggambarkan pasangan hidup idaman. Yang pasti, masing-masing
dalam kriterianya J
Entah bagaimana
caranya, yang pasti pernikahan adalah keputusan yang serius yang akan dijalankan
seumur hidup, tanpa revisi. Menjalin hubungan (pacaran.red) bisa jadi tidak
memberikan jaminan kepastian pada arah kehidupan. Seperti yang sudah
dijanjikan, bahwa setiap manusia tela terlahir dengan jodohnya. Jodoh harus
dicari atau bagaimana, saya kurang tau bagaimana seharusnya. Usaha adalah
pasti, senantiasa memperbaiki diri dari hari-ke hari dan berdoa. Berdoa agar
disandingkan dg seseorang yg dapat memberi kebahagiaan di dunia, dan mampu
menuntun ke surga. Sepertinya tidak perlu terpaku pada takdir yang (dianggap)
sempurna, yang kita gambar sendiri. Tuhan Maha Cerdas, dia mengetahui melebihi
apa yg tdk kita ketahui.
Dengan memperbaiki
diri, maka menempatkan kita pada keadaan terbaik. Dalam tingkat pengetahuan yg
bagus, dan karir sebagai jalan lain utk mempunyai kontribusi bagi sesama. Dengan
begitu kita siap diperoleh dengan cara elegan, oleh seseorang yang terbaik. Jangan
lupa, bahwa esensi sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi sesama. Jangan sampai
keputusan menikah kita adalah keputusan emosional, seperti kebutuhan seksual
atau bosan menjalani kesendirian kemuadian berdalih legitimasi agama. Buat apa?!
Tuhan tdk menyukai yg demikian. Itu adalah tantangan yg harus diselesaikan. Sampai
akhirnya hati kita sungguh-sungguh ikhlas utk diletakkan pada hati yg benar
oleh-Nya. Berat? Mungkin. Kita belajar
Menikah adalah
menyempurnakan separuh iman. Tapi apakah kita tahu, apa separuhnya lagi? Separuhnya
lagi adalah takwa. Bagaimana bisa membuat kesempurnaan jika kita tidak
menggenapkan disisi lainnya? Sehingga, pertama haruslah menempa diri utk
meningkatkan ketakwaan dan pengetahuan. Barulah yakin utk berkeputusan memilih
pernikahan. Pernikahan jangan sampai mengebiri nilai kebermanfaatan atas kita
terhadap sesama. Untuk saya, semoga bisa merenungkan.
Selamat
malam, generasi lepas landas J